Budidaya pakan alami - Technopark Samosir

Go to content

Main menu:

Progress
BUDIDAYA PAKAN ALAMI
Kultur Fitoplankton

Pembuatan prototip kultur fitoplankton dimulai dengan revitalisasi ruang laboratorium kultur yang telah tersedia, yaitu meliputi pembenahan meja-meja kultur, sumber pencahayaan dan sumber air bersihnya. Setelah itu disediakan 12 kolom reaktor kultur terbuat dari pipa akrilik (diameter 15 cm) yang dilengkapi dengan pipa-pipa aerasi untuk keperluan pengadukan kultur dan suplai CO2.
Aplikasi teknik kultur fitoplankton menggunakan media sintetis (PHM) berjalan baik, dimana jenis mikroalga Chlorella vulgaris dapat tumbuh baik di dalam reaktor kultur yang telah disediakan. Sayangnya pendataan laju tumbuh dan kapasitas produksi yang terukur belum dapat dilakukan. Inisiatif penambahan volume kultur telah dilakukan oleh BBI, yaitu dengan menambah kolom fotoreaktor menggunakan botol minuman kemasan volume 1,5 – 2,0 L yang dilengkapi aerasi beberapa buah.
Operasional kolom fotoreaktor (10 unit) ditambah beberata botol minuman kemasan diatas, saat ini dianggap masih kurang, baik dilihat dari sisi siklus produksi maupun jumlah kultur yang diperlukan untuk pakan larva. Berdasar informasi dari pelaksana laboratorium, diperlukan jumlah minimal 20 kolom fotoreaktor untuk menyesuaikan siklus produksi fitoplankton (volume kebutuhan dapat dipenuhi dengan kelipatan dari jumlah kolom reaktor yang diperlukan untuk memenuhi dinamika siklus produksinya). Media standar untuk kultur fitoplankton telah disediakan, sehingga yang diperlukan selanjutnya adalah penambahan jumlah unit kolom fotoreaktor, minimal 10 buah lagi.
Disamping itu perlu dibuat back up kultur pada botol-botol kultur sekala 500 mL dan 250 mL 4-6 botol setiap bulan dan diganti setiap 6 bulan. Sehingga setiap saat akan tersedia kultur cadangan umur 1,2,3,4,5, dan 6 bulan masing-masing 6 botol. Kultur cadangan penting untuk menjaga kesinambungan produksi fitoplankton, terutama dari gangguan kontaminasi yang tidak diharapkan.


Kultur Kutu Air (Daphnia)

Prototip kultur daphnia di Technopark Samosir terdiri dari wadah-wadah kultur berupa 6 buah wadah terpal volume 0,5 m3, 2 buah bak fiber 1 m3, dan 2 bak fiber ukuran 4 m3. Disamping itu juga digunakan beberapa akuarium kaca untuk pemeliharaan stok bibit daphnia yang didapat dari Puslit Limnologi – LIPI di Cibinong. Seluruh wahana kultur tersebut dilengkapi dengan sistem aerasi untuk menjaga kondisi oksigen terlarut di dalam media kultur cukup memadai mendukung pertumbuhan daphnia. Kultur kutu air di BBI terutama dilakukan dengan  media air yang diperkaya oleh pakan buatan (pellet); jumlah pelet yang digukanan belum terukur, tapi cukup efektif untuk mendukung kultur setidaknya selama sebulan belakangan ini. Permasalahan-permasalahan yang muncul pada kultur kutu air adalah perlambatan pertumbuhan karena over-populasi, dan pertumbuhan ganggang filamen yang mereduksi ruang kultur dan menjadi kelihatan kotor. Tindakan selanjutnya yang diperlukan untuk perbaikan kinerja kultur kutu air adalah pengendalian populasi kultur melalui pemanenan reguler setidaknya 2 kali seminggu (kultur daphnia harus dipanen reguler meskipun pada saat tertentu biomassanya tidak diperlukan; biomassa yang dipanen dapat dimasukkan kantong plastik dan disimpan di lemari es untuk dipergukan sewaktu-waktu diperlukan). Pemanenan reguler perlu juga disertai pemupukan media secara reguler menggunakan pakan ikan (pellet) , sekitar 50 g/m3 seminggu 2 kali.
Dampak aplikasi IMTA

Kegiatan usaha perikanan meliputi beberapa segmen, mulai dari pembenihan, pendederan, pembesaran, pengolahan hasil panen, dan pemasaran. Lingkup aplikasi IMTA hanya terbatas pada segmentasi usaha pembesaran saja. Kegiatan pembesaran ikan setidak-tidaknya harus ditopang oleh empat komponen sumber daya yang dapat dikendalikan, yaitu: lahan, air, bibit, dan pakan. Gambaran peran IMTA dalam mendukung kegiatan perikanan dapat dilihat pada Tabel 4. Jadi secara garis besar, IMTA dapat berperan memberikan penguatan usaha dalam aspek pemanfaatan sumber daya air dan pakan. Kemampuan tumbuhan air untuk meremediasi kualitas air (fitoremediasi) memberikan beberapa keunggulan, diantaranya:
  1. kesempatan pemanfaatan sumber daya air secara berulang sehingga lebih efisien; hal ini bisa dioptimasi dengan membangun kompleks kolam secara serial berselang-seling antara pemeliharaan ikan dan tumbuhan air;
  2. kesempatan mengembangkan sistem budidaya perikanan aliran tertutup, dimana air media budidaya dialirkan melalui kolam-kolam tumbuhan air dan dialirkan kembali ke kolam ikan setelah mengalami proses purifikasi di dalamnya; pengembangan perikanan sistem aliran tertutup memberikan kesempatan pengembangan kegiatan usaha perikanan di daerah marginal yang sumber daya airnya terbatas;
  3. kesempatan meminimalkan luaran limbah cair ke lingkungan, sehingga dapat menciptakan apresiasi aspek lingkungan atau bersifat ramah lingkungan. Apresiasi lingkungan juga dapat diusulkan dalam kaitan dengan upaya pengelolaan, khususnya konservasi sumber daya air.

Fungsi IMTA dalam kegiatan usaha perikanan



Skema kolam IMTA memberikan potensi penyediaan sumber pakan alternatif melalui integrasi budidaya tumbuhan air di dalamnya. Merujuk pada laporan hasil uji coba di Puslit Limnologi LIPI di Cibinong, pemanfaatan lemna sebagai alternatif pakan tambahan dapat mendorong efisiensi biaya produksi hingga 20% pada ikan mas, dan sekitar 30% pada ikan lele. Dengan demikian IMTA dapat dijadikan faktor peningkatan daya saing produk perikanan terhadap komoditas pangan lainnya. Daya saing yang kuat pada gilirannya akan meningkatkan kesempatan usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat pada umumnya.
Peningkatan efisiensi produksi budidaya perikanan juga dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap upaya pembangunan ketahanan pangan. Hal ini sejalan dengan rekomendasi FAO untuk menjadikan sumber daya ikan sebagai tulang punggung suplai protein masyarakat, dengan merujuk beberapa fakta karakter unggul sumber daya ikan sebagai berikut:

    • Kandungan protein ikan 16-20% (telur = 12%; susu = 3,5%; beras = 6,8%);
    • Laju reproduksi tinggi (1 kg ikan rata-rata bisa menghasilkan 0,1 juta telur yang dapat berkembang menjadi individu berukuran 1 kg dalam waktu 1 tahun);
    • Meskipun hidup di air, produksi ikan memerlukan jumlah air yang lebih sedikit dibanding produksi hewan lainnya;
    • Keperluan energi lebih rendah (keperluan  energi ikan = 22 – 468 kJ/g protein; pada hewan lain 550 – 3400 kJ/g protein;
    • Daerah iklim tropis merupakan kawasan yang cocok untuk budidaya ikan;
    • Suhu hangat setahun penuh mendukung metabolisme dan laju pertumbuhan tinggi.

Peningkatan efisiensi produksi perikanan budidaya dapat menurunkan harga jual produk ikan sehingga lebih terjangkau oleh masyarakat umum, dan menjadikan sumber daya ikan sebagai komoditas unggulan yang paling ekonomis  untuk memacu ketahanan pangan nasional.


Puslit Limnologi - LIPI
Logo Kab. Samosir
Berand
Back to content | Back to main menu